“Menurut
Santrock (2003), teman sebaya merupakan sumber status, persahabatan dan rasa
saling memiliki yang penting dalam situasi sekolah. Kelompat teman sebaya juga
merupakan komunitas belajar di mana peran-peran social dan standar yang
berkaitan dengan kerja dan prestasi di bentuk. Di sekolah, remaja biasanya
menghabiskan waktu bersama-sama paling sedikit selama enam jam setiap harinya.
Sekolah juga menyediakan ruang bagi banyak aktivitas remaja sepulang sekolah
maupun di akhir pekan”.
Kelompok sebaya
merupakan sunber penting dari rokok pertama remaja. Dengan merujuk konsep
transmisi perilaku, pada dasarnya perilaku dapat ditransmisikan melalui
transmisi vertical dan horizontal. Transmisi horizontal dilakukan oleh teman
sebaya dalam hal ini lingkungan teman sebaya. Kebutuhan untuk diterima sering
kali membuat remaja berbuat apa saja agar dapat diterimakelompoknya dan
terbebas dari sebutan ‘pengecut’ dan ‘banci’. Remaja mengalami tekanan internal
untuk merokok jika orang lain di sekitar mereka merokok. Rokok digunakan untuk
meningkatkan status social anak laki-laki di antara teman-teman mereka. Jika
mereka merokok dengan ‘baik’, merek rokok mahal dan popular, dan lebih kaya
daripada rekan-rekan mereka (Rachmat dkk, 2013).
Berbagai fakta
mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja merokok maka semakin besar
kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya. Ada dua
kemungkinan yang terjadi dari fakta tersebut, pertama remaja tersebut
terpengaruh oleh teman-temannya atau sebaliknya. Diantara remaja perokok
terdapat 87% mempunyai sekurang-kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok
begitu pula dengan remaja non perokok (Kemala, 2007).
No comments:
Post a Comment