Home

Saturday, January 4, 2014

RADANG



Pengertian radang
            Radang adalah suatu proses reaksi tubuh terhadap reaksi yang ditimbulkan oleh agent baik yang masuk dari dalam maupun dari luar.

            Misalnya apabila jaringan cedera karena terbakar,teriris atau karena infeksi oleh kuman, maka pada jaringan ini akan terjadi rangkaian reaksi yang menyebabkan musnahnya agent yang membahayakan jaringan atau yang mencegah agent ini menyebar lebih luas. Reaksi-reaksi ini kemudian juga menyebabkan jaringan yang cedera diperbaiki atau diganti dengan jaringan baru. Radang adalah rangkaian reaksi yang terjadi pada tempat cedera ini.

Tanda-tanda radang (makroskopik)
1.      Membengkak (tumor)
Diakibatkan karena:
ü  Banyaknya darah yang mengalir ke tempat radang
ü  Penumpukan cairan jaringan
ü  Penumpukan kuman – kuman dan jaringan yang rusak
2.      Berwarna kemerah-merahan (rubor)
Terjadi pelebaran arteriola sehingga menyebabkan aliran darah meningkat kedalam mikrosirkulasi lokal dan mengakibatkan kapiler meregang hiperemia
3.      Nyeri (dolor)
Diakibatkan oleh:
ü  Perubahan pH lokal atau kerusakan ion-ion tertentu dapat merangsang ujung-ujung saraf
ü  Pengeluaran zat kimia tertentu (misal;histamin) atau zat kimia bioaktif lainnya
ü  Pembengkakan jaringan yan meradang yang menyebabkan peningkatan tekanan lokal
4.      Menjadi agak hangat (calor)
Terjadi proses kimia yang ditimbulkan penyerangan kuman pada jaringan dan reaksi tubuh terhadap kuman tersebut, sebagai akibat dari :
ü  Banyaknya darah yang mengalir
ü  Proses penyerangan kuman
ü  Penangkisan sel darah putih
5.      Daya geraknya berkurang (function laesa)
Jaringan yang cedera mengalami proses peradangan yang mengakibatkan keadaan kimia dan fisik yang abnormal dari sel – sel yang mengalami inflamasi / peradangan.

Agent yang menyebabkan terjadinyan radang,yaitu :
ü  Kuman
ü  Benda (pisau, peluru, dll)
ü  Suhu (panas atau dingin)
ü  Berbagai jenis sinar (sinar X, sinar ultraviolet)
ü  Listrik
ü  Zat-zat kimia
ü  Dll

Cedera radang yang ditimbulkan oleh beberapa agent menunjukkan proses yang mempunyai pokok-pokok yang sama :
1.      Terjadi cedera jaringan berupa degenerasi (kemunduran) atau kematian jaringan (nekrosis)
2.      Terjadi pelebaran kapiler yang disertai oleh cedera dinding kapiler
3.      Terkumpulnya cairan plasma, sel darah dan sel jaringan pada tempat radang yang disertai oleh proliferasi sel jaringan makrofag, fibroblas
4.      Terjadinya proses fagositosis
5.      Terjadinya proses perubahan-perubahan imunologik

Permeabilitas Dinding Kapiler
            Kapiler yang sehat permeabilitas dindingnya terbatas, yaitu dapat dilalui oleh cairan dan oleh larutan garam-garam, tetapi sukar dilalui oleh larutan protein yang berupa koloid. Bila kapiler cedera, sebagai yang terjadi pada radang, maka dindingnya akan menjadi lebih permeable dan akn lebih mudah dilalui oleh zat-zat tersebut diatas.
            Maka itu jumlah cair yang meninggalkan kapiler sewaktu radang akan menjadi lebih banyak. Cairan ini akan masuk dalam jaringan sehingga menyebabkan jaringan menjadi sembab (edema).
            Pada keadaan normal, maka pada keadaan arteriil daripada kapiler tekanan hidrostatik lebih besar daripada tekanan osmotic dalam jaringan sehingga cairan dari kapiler mengalir kedalam jaringan.
            Pada radang, cairan jaringan mengandung banyak larutan protein sehingga tekanan osmotic tinggi dan hal ini menyebabkan plasma tidak dapat mengalir kembali ke dalam pembuluh. Pembuluh menjadi kekurangan plasma dan butir-butir darah terhenti mengalir, yaitu menjadi stasis. Jaringan mengandung banyak cairan  sehingga membengkak (Tumor).
Cairan yang terjadi akibat radang ini disebut Eksudat. Cairan jaringan yang terjadi karena hal lain daripada radang, misalnya karena gangguan sirkulasi, mengandung sedikit protein, berat jenisnya rendah dan tidak membeku, cairan ini disebut Transudat. Transudat ini misalnya terjadi pada penderita penyakit jantung.
            Permeabilitas kapiler yang meningkat menyebabkan jaringan banyak mengandung fibrinogen yang setelah membeku dapat menyumbat saluran-saluran limfe dan sela-sela jaringan dan dengan demikian dapat mencegah menyebarnya infeksi.

Reaksi Sel Pada Radang             
            Setelah aliran dalam pembuluh menjadi lambat, maka lekosit-lekosit melekat pada sel-sel endotel pembuluh (marginasi). Makin lama makin bayak sel lekosit yang melekat.
            Sel-sel enotel pada radang mendadak tampak mengelembung. Dengan pergerakan ameboid (pergerakan seperti ameba) lekosit menyusup antara sel endotel dan kemudian keluar (emigrasi).
            Keluarnya eritrosit dari pembuluh ialah secara pasif, tidak dengan cara gerak ameboid. Eritosit dapat keluar dari pembuluh agaknya karena terdorong tekanan darah melalui dinding kapiler yang cedera. Bila banyak eritrosit yang keluar dari pembuluh, maka cairan radang berwarna kemerah-merahan dan dinamai radang hemoragik.
Khemotaksis ialah pergerakan yang menuju arah tertentu yang disebabkan zat-zat kimia. Khemotaksis ini menyebabkan lekosit langsung menuju kuman atau kejaringan yang cedera.
            Kuman tifus, tuberculosis tidak besar daya tariknya terhadap lekosit, sedangkan virus tidak mempunyai daya tarik terhadap lekosit. Karena itu jaringan yang meradang karena virus tidak mengandung lekosit.
            Eksudat radang yang disebabkan kuman yang sangat virulen (misalnya anthrax) memang hampir tidak mengandung lekosit, tetapi hal ini agaknya tidak disebabkan oleh karena adanya khemotaksis negative, melainkan karena lekosit menjadi lumpuh akibat zat-zat yang dilepaskan oleh kuman yang virulen.
            Fogositosis ialah kesanggupan sel untuk memasukkan benda mikroskopik kedalam protoplasmanya. Pada manusia pada keadaan-keadaan tertentu agaknya banyak jenis sel dapat berubah, sehingga dapat mengadakan fogositosis, tetapi sel-sel terpenting yang fungsinya terutama Fogositosis adalah:
1.    Sel Polimorfonukleus Netrofil (mikrofag)
2.    Sel Fagositik besar berinti bulat (makrofag).
Berbagai bentuk/eksudat, proliferasi dan nekrosis serta banyaknya masing-masing unsure menentukan jenis radang yang terjadi:
ü Radang kataral (catarrhal inflammation): ialah radang selaput mukosa yang disertai sekresi berlebihan, misalnya rdang mukosa hidung (catarrh bearti mengalir) yang disertai sekresi lender yang berlebihan. Radang kataral ini hanya menyangkut jaringan-jaringan lapisan atas dan tidak menyangkut lapisan-lapisan yang lebih dalam.
ü Radang Pseudomembranosa (radang difteritik): ialah radang selaput mukosa sebagai selaput mukosa pharynx, larynx, trachea, bronchus, dan usus terhadap agens kuat, misalnya toksin kuman difteri.
Bila radang disebabkan kuman yang sangat virulen, maka jaringan akan mengalami degenerasi dan nekrosis. Degenerasi yang sering ditemukan ialah Lisis Jaringan.
Bila terjadi thrombosis kapiler, maka jaringan akan kekurangan oksigen dan zat-zat yang perlu untuk metabolismenya, sehingga nekrosis akan menjadi lebih luas. Lisis jaringan disebabkan oleh lekosit yang musnah, yang melepaskan fermen proteolitik. Akibat Lisis ini terjadi rongga dalam jaringan yang berisi Pus, yaitu Abses. Radang yang disertai banyak Pus ini dinamai Radang Purulen.
            Radang selaput rongga badan yang eksudatnya cair dan banyak dinamai radang yang basah (serous), sedangkan bila eksudatnya sedikit dan relative banyak mengandung fibrin dinamai radang yang kering (fibrinous).

Superasi (pernanahan)
            Jaringan yang mengalami degenerasi akibat radang dapat mencair menjadi pus (nanah). Nanah baru akan terjadi bila:
ü Terjadi nekrosis jaringan
ü Bila jumlah lekosit yang turut pada pada radang cukup jumlahnya
ü Pencairan jaringan nekrotik karena fermen proteolitik.
Pada radang tuberculosis tidak akan terjadi supurasi, melainkan akan terjadi nekrosis berupa kiju karena pada tuberculosis:
ü Jumlah lekosit sangat minimal
ü Jaringan yang mengiju mengandung zat antiproteolitik.
ü Kuman tuberculosis menginaktifkan fermen-fermen autolitik.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, pada radang terdapat nanah, hal ini berarti bahwa radang ini di sertai nekrosis.
Nanah adalah cairan yang bewarna kuning yang terdiri atas cairan plasma, cairan hasil pencairan jaringan nekrotik, leukosit yang musnah, sisa-sisa jaringan nekrotik dan kuman-kuman.

Radang Yang Disebabkan Infeksi Ulangan Oleh Kuman Yang Sama
Radang yang disebabkan Infeksi ulangan oleh kuman yang sama dapat menunjukkan 2 hal, yaitu:
1.    Radang disertai banyak eksudat dan nekrosis.
2.    Radang disertai daya fagositosis lekosit dan makrofag yang meningkat.
Radang yang terutama menunjukkan banyaknya eksudat dan nekrosis dinamai Radang alergik. Reaksi alergik ini dapat berlangsung dengan sangat keras dan dapat merugikan. Radang yang menunjukkan fogositosis sel yang meningkat akan cepat sembuh, reaksi demikian dinamai reaksi imun.
Pengaruh korsiton Pada Radang
            Korsiton mengurangi kerasnya reaksi. Eksudat berkurang, jumlah limfosit dan lekosit berkurang demikian pula daya fagositosis sel-sel ini berkurang. Maka itu korsiton terutama berfaedah pada radang alergik, yaitu untuk mengurangi nekrosis yang terjadi.
            Korsiton diberi pada beberapa penyakit menahun sebagai pada arthrisis menahun dan pada periarteritis nodosa.
Radang Khronik (radang menahun): disebabkan oleh kuman yang sukar dimusnahkanakan tetapi yang menimbulkan reaksi jaringan yang tidak keras. Reaksi menimbulkan sedikit cairan eksudat dan sel-sel yang tampak ialah limfosit, sel-sel yang berasal dari histiosit sebagai makrofag, dan sel plasma. Sel makrofag sering berkumpul banyak sehingga membentuk tuberkel. Juga tampak banyak proliferasi fibroblas.
Karena itu radang khonik dinamai Radang Granulomatosa atau radang produktif.
            Diantara radang-radang granulomatosa ini ialah tuberculosis, syphilis, lepra, dan mycosis yang disebabkan oleh fungus (jamur).
            Radang hati atau ginjal dapat menyebabkan nekrosis sel-sel parenchym dan menyebabkan proliferasi fibroblast sehingga sel-sel parenchym diganti oleh jaringan ikat, yang tentunya tidak dapat menggantikan fungsi sel parenchym. Jaringan ikat ini kemudian dapat berkontraksi sehingga mengubah bentuk alat tubuh bersangkutan.

Contoh radang :
ü  Lepuh pada kulit akibat luka bakar
ü  Peritonitis
ü  Sinovitis akut

No comments:

Post a Comment