1. Pengertian manajemen kesehatan
Dalam
kegiatan apa saja, agar kegiatan tersebut dapat mencapai tujuannya secara
efektif diperlukan pengaturan yang baik. Demikian juga kegiatan dan atau
pelayanan kesehatan masyarakat memerlukan pengaturan yang baik, agar tujuan
tiap kegiatan atau program itu tercapai dengan baik.
Proses
pengaturan kegiatan ilmiah ini disebut manajemen, sedangkan proses untuk
mengatur kegiatan-kegiatan atau pelayanan kesehatan masyarakat disebut
"manajemen pelayanan kesehatan masyarakat".
Sebagian
orang menyatakan bahwa proses pengaturan kegiatan untuk mencapai tujuan ini
disebut "administrasi" sehingga proses pengaturan kegiatan dan atau
pelayanan kesehatan masyarakat disebut "administrasi kesehatan
masyarakat". Disini timbul kerancuan karena proses kegiatan sama namun
istilah berbeda "manajemen" dan "administrasi".
Dalam
hal ini tidak perlu diperdebatkan mana yang benar "manajemen" atau
"administrasi" menurut pendapat penulis melihat dari proses atau
kegiatannya sama maka kedua hal tersebut sama. Sedangkan pemakaiannya, apakah
menggunakan "manajemen" atau "administrasi" terserah kepada
kita masing-masing yang memakainya (tergantung selera).
Dalam
uraian ini penulis lebih cenderung menggunakan "manajemen" daripada
"administrasi". Banyak ahli yang telah membuat batasan tentang
manajemen ini antara lain :
a. The
accomplishing of a predetermined objectives through the effort other people
atau manajemen adalah pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan dengan
menggunakan orang lain. (Robert D. Terry)
b. Manajemen
adalah "the process, by which the excution of given purpose is put in to
operation and supervised atau manajemen adalah proses dimana pelaksanaan dari
suatu tujuan diselenggarakan dan diawasi. (Encyclopedia of social sciences)
c. Manajemen
adalah membuat tujuan tercapai melalui kegiatan-kegiatan orang lain dan
fungsi-fungsinya dapat dipecah sekurang-kurangnya 2 tanggung jawab utama, yakni
perencanaan dan pengawasan.
d. Management
is the process under taken by one or more persons to coordinate the activities
of other persons to achieve results not attainable by any one person acting
alone atau manajemen adalah suatu proses yang dilakukan oleh satu orang atau
lebih untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan orang lain guna mencapai hasil
(tujuan) yang tidak dapat dicapai oleh hanya satu orang saja. (Evancovich,
1989).
Dari
batasan-batasan tersebut di atas dapat diambil suatu kesimpulan umum bahwa
manajemen adalah suatu kegiatan untuk mengatur orang lain guna mencapai suatu
tujuan atau menyelesaikan pekerjaan. Seorang manajer dalam mencapai tujuan
adalah secara bersama-sama dengan orang lain atau bawahannya.
Apabila
batasan ini diterapkan dalam bidang kesehatan masyarakat dapat dikatakan
sebagai berikut "Manajemen kesehatan adalah suatu kegiatan atau suatu seni
untuk mengatur para petugas kesehatan dan non petugas kesehatan guna
meningkatkan kesehatan masyarakat melalui program kesehatan."
Dengan
kata lain manajemen kesehatan masyarakat adalah penerapan manajemen umum dalam
sistem pelayanan kesehatan masyarakat sehingga yang menjadi objek atau sasaran
manajemen adalah sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Sistem adalah suatu
kesatuan yang utuh, terpadu yang terdiri dari berbagai elemen (sub sistem) yang
saling berhubungan didalam suatu proses atau struktur dalam upaya menghasilkan
sesuatu atau mencapai suatu tujuan tertentu.
Oleh
sebab itu kalau berbicara sistem pelayanan kesehatan masyarakat adalah struktur
atau gabungan dari sub sistem didalam suatu unit atau didalam suatu proses
untuk mengupayakan pelayanan kesehatan masyarakat baik preventif, kuratif,
promotif maupun rehabilitatif.
Sehingga
sistem pelayanan kesehatan ini dapat berbentuk Puskesmas, Rumah sakit,
Balkesmas dan unit-unit atau organisasi-organisasi lain yang mengupayakan
peningkatan kesehatan. Dengan demikian maka manajemen kesehatan masyarakat
adalah proses manajemen di tiap-tiap sub sistem pelayanan.
Seperti
telah disebutkan di atas bahwa manajemen itu suatu seni mengatur orang lain
dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi atau unit pelayanan maka manajemen tersebut mempunyai
fungsi-fungsi. Dan berbagai pendapat para ahli dapat ditarik suatu kesimpulan
bahwa fungsi-fungsi manajemen itu pada garisnya terdiri dari :
a. Perencanaan
(planning)
b. Pengorganisasian
(organizing)
c. Penyusunan
personalia (staffing)
d. Pengkoordinasian
(coordinating)
e. Penyusunan
anggaran (budgeting)
2. Perencanaan kesehatan
Perencanaan
adalah merupakan inti kegiatan manajemen, karena semua kegiatan manajemen
diatur dan diarahkan oleh perencanaan tersebut. Dengan perencanaan itu
memungkinkan para pengambil keputusan atau manajer untuk menggunakan sumber
daya mereka secara berhasil guna dan berdaya guna. Banyak batasan perencanaan
yang telah dibuat oleh para ahli.
Dari
batasan-batasan yang telah ada dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa perencanaan
adalah suatu kegiatan atau proses penganalisaan dan pemahaman sistem,
penyusunan konsep dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai
tujuan-tujuan demi masa depan yang baik. Dari batasan ini dapat ditarik kesimpulan-kesimpulan
antara lain :
a. Perencanaan
harus didasarkan kepada analisis dan pemahaman sistem dengan baik
b. Perencanaan
pada hakekatnya menyusun konsep dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk
mencapai tujuan dan misi organisasi.
c. Perencanaan
secara implisit mengemban misi organisasi untuk mencapai hari depan yang lebih
baik.
Secara
sederhana dan awam dapat dikatakan bahwa perencanaan adalah suatu proses yang
menghasilkan suatu uraian yang terinci dan lengkap tentang suatu program atau
kegiatan yang akan dilaksanakan. Oleh sebab itu, hasil proses perencanaan
adalah "rencana" (plan). Perencanaan atau rencana itu sendiri banyak
macamnya, antara lain :
1. Dilihat
dari jangka waktu berlakunya rencana :
a. Rencana
jangka panjang (long term planning), yang berlaku antara 10-25 tahun
b. Rencana
jangka menengah (medium range planning), yang berlaku antara 5-7 tahun
c. Rencana
jangka pendek (short range planning), umumnya hanya berlaku untuk 1 tahun
2. Dilihat
dari tingkatannya :
a. Rencana
induk (masterplan), lebih menitikberatkan uraian kebijakan organisasi. Rencana
ini mempunyai tujuan jangka panjang dan mempunyai ruang lingkup yang luas.
b. Rencana
operasional (operational planning), lebih menitikberatkan pada pedoman atau
petunjuk dalam melaksanakan suatu program.
c. Rencana
harian (day to day planning) ialah rencana harian yang bersifat rutin.
3. Ditinjau
dari ruang lingkupnya :
a. Rencana
strategis (strategic planning), berisikan uraian tentang kebijakan tujuan
jangka panjang dan waktu pelaksanaan yang lama. Model rencana ini sulit untuk
diubah
b. Rencana
taktis (tactical planning) ialah rencana yang berisi uraian yang bersifat
jangka pendek, mudah menyesuaikan kegiatan-kegiatannya, asalkan tujuan tidak
berubah
c. Rencana
menyeluruh (comprehensive planning) ialah rencana yang mengandung uraian secara
menyeluruh dan lengkap.
d. Rencana
terintegrasi (integrated planning) ialah rencana yang mengandung uraian yang
menyeluruh bersifat terpadu, misalnya dengan program lain diluar kesehatan.
Meskipun
ada berbagai jenis perencanaan berdasarkan aspek-aspek tersebut diatas namun
prakteknya sulit untuk dipisah-pisahkan seperti pembagian tersebut. Misalnya
berdasarkan tingkatannya suatu rencana termasuk rencana induk tetapi juga
merupakan rencana strategis berdasarkan ruang lingkupnya dan rencana jangka
panjang berdasarkan jangka waktunya.
a.
Proses Perencanaan
Perencanaan
dalam suatu organisasi adalah suatu proses, dimulai dari identifikasi masalah,
penentuan prioritas masalah, perencanaan pemecahan masalah, implementasi
(pelaksanaan pemecahan masalah) dan evaluasi. Dari hasil evaluasi tersebut akan
muncul masalah-masalah baru kemudian dari masalah-masalah tersebut dipilih
prioritas masalah dan selanjutnya kembali ke siklus semula.
Di
bidang kesehatan khususnya, proses perencanaan ini pada umumnya menggunakan
pendekatan pemecahan masalah (problem solving). Secara terinci, langkah-langkah
perencanaan kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Identifikasi
Masalah
Perencanaan
pada hakekatnya adalah suatu bentuk rancangan pemecahan masalah. Oleh sebab
itu, langkah awal dalam perencanaan kesehatan adalah mengidentifikasi
masalah-masalah kesehatan masyarakat di lingkungan unit organisasi yang
bersangkutan. Sumber masalah kesehatan masyarakat dapat diperoleh dari berbagai
cara antara lain :
a. Laporan-laporan
kegiatan dari program-program kesehatan yang ada.
b. Survailance
epidemiologi atau pemantauan penyebaran penyakit.
c. Survei
kesehatan yang khusus diadakan untuk memperoleh masukan perencanaan kesehatan.
d. Hasil
kunjungan lapangan supervisi, dan sebagainya.
2. Menetapkan
Prioritas Masalah
Kegiatan
identifikasi masalah menghasilkan segudang masalah kesehatan yang menunggu
untuk ditangani. Oleh karena keterbatasan sumber daya baik biaya, tenaga dan
teknologi maka tidak semua masalah tersebut dapat dipecahkan sekaligus
(direncanakan pemecahannya). Untuk itu harus dipilih masalah mana yang
"feasible" untuk dipecahkan. Proses memilih masalah ini disebut
memilih atau menetapkan prioritas masalah. Pemilihan prioritas dapat dilakukan
melalui 2 cara, yakni :
2.1 Teknik
Skoring
Yakni
memberikan nilai (scor) terhadap masalah tersebut dengan menggunakan ukuran
(parameter) antara lain :
a. Prevalensi
penyakit (prevalence) atau besarnya masalah.
b. Berat
ringannya akibat yang ditimbulkan oleh masalah tersebut (severity).
c. Kenaikan
atau meningkatnya prevalensi (rate increase).
d. Keinginan
masyarakat untuk menyelesaikan masalah tersebut (degree of unmeet need).
e. Keuntungan
sosial yang diperoleh bila masalah tersebut diatasi (social benefit).
f. Teknologi
yang tersedia dalam mengatasi masalah (technical feasiblity).
g. Sumber
daya yang tersedia yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah (resources availability),
termasuk tenaga kesehatan.
Masing-masing
ukuran tersebut diberi nilai berdasarkan justifikasi kita, bila masalahnya
besar diberi 5 paling tinggi dan bila sangat kecil diberi nilai 1. Kemudian
nilai-nilai tersebut dijumlahkan. Masalah yang memperoleh nilai tertinggi
(terbesar) adalah yang diprioritaskan, masalah yang memperoleh nilai terbesar
kedua memperoleh prioritas kedua dan selanjutnya.
2.2 Teknik
Non Skoring
Dengan
menggunakan teknik ini masalah dinilai melalui diskusi kelompok, oleh sebab itu
juga disebut "nominal group tecnique (NGT)". Ada 2 NGT yakni :
2.2.1
Delphi Technique
Yaitu
masalah-masalah didiskusikan oleh sekelompok orang yang mempunyai keahlian yang
sama. Melalui diskusi tersebut akan menghasilkan prioritas masalah yang
disepakati bersama.
2.2.2
Delbeq Technique
Menetapkan
prioritas masalah menggunakan teknik ini adalah juga melalui diskusi kelompok
namun peserta diskusi terdiri dari para peserta yang tidak sama keahliannya
maka sebelumnya dijelaskan dulu sehingga mereka mempunyai persepsi yang sama
terhadap masalah-masalah yang akan dibahas. Hasil diskusi ini adalah prioritas
masalah yang disepakati bersama.
3. Menetapkan
Tujuan
Menetapkan
tujuan perencanaan pada dasarnya adalah membuat ketetapan-ketetapan tertentu
yang ingin dicapai oleh perencanaan tersebut. Penetapan tujuan yang baik
apabila dirumuskan secara konkret dan dapat diukur. Pada umumnya dibagi dalam
tujuan umum dan tujuan khusus.
3.1 Tujuan
Umum
Adalah
suatu tujuan masih bersifat umum dan masih dapat dijabarkan ke dalam
tujuan-tujuan khusus dan pada umumnya masih abstrak. Contoh : Meningkatnya
status gizi anak balita di kecamatan Cibadak.
3.2 Tujuan
Khusus
Adalah
tujuan-tujuan yang dijabarkan dari tujuan umum. Tujuan khusus merupakan
jembatan untuk tujuan umum, artinya tujuan umum yang ditetapkan akan tercapai
apabila tujuan-tujuan khususnya tercapai.
Contoh
: Apabila tujuan umum seperti contoh tersebut di atas dijabarkan ke dalam
tujuan khusus menjadi sebagai berikut :
·
Meningkatnya perilaku ibu dalam
memberikkan makanan bergizi kepada anak balita.
·
Meningkatnya jumlah anak balita yang
dittimbang di Posyandu.
·
Meningkatnya jumlah anak yang berat
badaannya naik, dan sebagainya.
4. Menetapkan
Rencana Kegiatan
Rencana
kegiatan adalah uraian tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk
mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Pada umumnya kegiatan mencakup 3
tahap pokok, yakni :
·
Kegiatan pada tahap persiapan, yakni
keggiatan-kegiatan yang dilakukan sebelum kegiatan pokok dilaksanakan, misalnya
rapat-rapat koordinasi, perizinan dan sebagainya.
·
Kegiatan pada tahap pelaksanaan yakni
keegiatan pokok program yang bersangkutan.
·
Kegiatan pada tahap penilaian, yakni
keggiatan untuk mengevaluasi seluruh kegiatan dalam rangka pencapaian program
tersebut.
5. Menetapkan
Sasaran (Target Group)
Sasaran
(target group) adalah kelompok masyarakat tertentu yang akan digarap oleh
program yang direncanakan tersebut. Sasaran program kesehatan biasanya dibagi
dua, yakni :
a. Sasaran
langsung, yaitu kelompok yang langsung dikenai oleh program tersebut. Misalnya
kalau tujuan umumnya : Meningkatkan status gizi anak balita seperti tersebut di
atas maka sasaran langsungnya adalah anak balita.
b. Sasaran
tidak langsung adalah kelompok yang menjadi sasaran antara program tersebut
namun berpengaruh sekali terhadap sasaran langsung. Misalnya : seperti contoh
tersebut di atas, anak balita sebagai sasaran langsung sedangkan ibu anak
balita sebagai sasaran tidak langsung. Ibu anak balita, khususnya perilaku ibu
dalam memberikan makanan bergizi kepada anak sangat menentukan status gizi anak
balita tersebut.
6. Waktu
Waktu
yang ditetapkan dalam perencanaan adalah sangat tergantung dengan jenis
perencanaan yang dibuat serta kegiatan-kegiatan yang ditetapkan dalam rangka
mencapai tujuan. Oleh sebab itu, waktu dan kegiatan sebenarnya dapat dijadikan
satu dan disajikan dalam bentuk matriks, yang disebut gant chart.
7. Organisasi
dan Staf
Dalam
bagian ini digambarkan atau diuraikan organisasi sekaligus staf atau personel
yang akan melaksanakan kegiatan-kegiatan atau program tersebut. Disamping itu
juga diuraikan tugas (job description) masing-masing staf pelaksana tersebut.
Hal ini penting karena masing-masing orang yang terlibat dalam program tersebut
mengetahui dan melaksanakan kewajiban.
8. Rencana
Anggaran
Adalah
uraian tentang biaya-biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan, mulai
dari persiapan sampai dengan evaluasi. Biasanya rincian rencana biaya ini
dikelompokkan menjadi :
a. Biaya
personalia
b. Biaya
operasional
c. Biaya
sarana dan fasilitas
d. Biaya
penilaian
9. Rencana
Evaluasi
Rencana
evaluasi sering dilupakan oleh para perencana padahal hal ini sangat penting.
Rencana evaluasi adalah suatu uraian tentang kegiatan yang akan dilakukan untuk
menilai sejauh mana tujuan-tujuan yang telah ditetapkan tersebut telah
tercapai.
3.
Pengorganisasian
Setelah
perencanaan telah dilakukan atau telah selesai (menjadi rencana) maka
selanjutnya harus dilakukan pengorganisasian. Yang dimaksud pengorganisasian
adalah mengatur personel atau staf yang ada didalam institusi tersebut agar
semua kegiatan yang telah ditetapkan dalam rencana tersebut dapat berjalan
dengan baik, yang akhirnya semua tujuan dapat dicapai.
Dengan
kata lain pengorganisasian adalah pengkoordisasian kegiatan-kegiatan yang akan
dilakukan suatu institusi guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pengorganisasian mencakup beberapa unsur pokok, antara lain :
1. Hal
yang diorganisasikan ada 2 macam, yakni :
a. Pengorganisasian
kegiatan ialah pengaturan berbagai kegiatan yang ada didalam rencana sehingga
membentuk satu kesatuan yang terpadu untuk mencapai tujuan.
b. Pengorganisasian
tenaga pelaksana ialah mencakup pengaturan hak dan wewenang setiap tenaga
pelaksana sehingga setiap kegiatan mempunyai penanggung jawabnya.
2. Proses
pengorganisasian ialah langkah-langkah yang harus dilakukan sedemikian rupa
sehingga semua kegiatan dan tenaga pelaksana dapat berjalan sebaik-baiknya.
3. Hasil
pengorganisasian ialah terbentuknya wadah atau sering disebut struktur
organisasi yang merupakan perpaduan antara kegiatan dan tenaga pelaksana.
Dari
uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengorganisasian ialah suatu proses yang
menghasilkan organisasi (struktur organisasi). Struktur organisasi ialah
visualisasi kegiatan dan pelaksana kegiatan (personel) didalam suatu institusi.
Dilihat
dari segi pembagian kegiatan dan pelaksanaan tugas, fungsi dan wewenang maka
organisasi secara umum dibedakan atas 3 jenis, yakni :
a. Organisasi
Lini (Line Organization)
Dalam
jenis organisasi ini, pembagian tugas dan wewenang terdapat perbedaan yang
tegas antara pimpinan dan pelaksanaan. Peran pimpinan dalam hal ini sangat
dominan dimana semua kekuasaan di tangan pimpinan. Oleh sebab itu dalam
pelaksanaan kegiatan yang utama adalah wewenang dan perintah.
Memang
bentuk organisasi semacam ini, khususnya didalam institusi-institusi yang kecil
sangat efektif karena keputusan-keputusan cepat diambil dan pelaksanaan
keputusan juga cepat. Kelemahannya jenis organisasi semacam ini kurang
manusiawi, lebih-lebih para pelaksana tugas bawahan hanya dipandang sebagai
robot yang senantiasa siap melaksanakan perintah.
b. Organisasi
Staf (Staff Organization)
Dalam
organisasi ini, tidak begitu tegas garis pemisah antara pimpinan dan staf
pelaksana. Peran staf bukan sekedar pelaksana perintah pimpinan namun staf
berperan sebagai pembantu pimpinan. Bentuk organisasi semacam ini muncul karena
makin kompleksnya masalah-masalah organisasi sehingga pimpinan sudah tidak
dapat lagi menyelesaikan semuanya dan memerlukan bantuan orang lain (biasanya
para ahli) yang dapat memberikan masukan pemikiran-pemikiran terhadap
masalah-masalah yang dihadapi.
Meskipun
organisasi ini lebih baik dari yang pertama karena keputusan-keputusan dapat
lebih baik namun kadang-kadang keputusan-keputusan tersebut akan memakan waktu
yang lama karena melalui perdebatan-perdebatan yang kadang-kadang melelahkan.
c. Organisasi
Lini dan Staf
Organisasi
ini merupakan gabungan kedua jenis organisasi yang terdahulu disebutkan (line
dan staf). Dalam organisasi ini staf bukan sekedar pelaksana tugas tetapi juga
diberikan wewenang untuk memberikan masukan demi tercapainya tujuan secara
baik. Demikian juga pimpinan tidak sekedar memberikan perintah atau nasehat
tetapi juga bertanggung jawab atas perintah atau nasehat tersebut.
Keuntungan
organisasi ini antara lain ialah keputusan yang diambil oleh pimpinan lebih
baik karena telah dipikirkan oleh sejumlah orang dan tanggung jawab pimpinan
berkurang karena mendapat dukungan dan bantuan dari staf.
Dalam
kehidupan sehari-hari apabila unit kerja (departemen, perusahaan dan
sebagainya) akan melaksanakan suatu rencana tidak selalu langsung diikuti oleh
penyusunan organisasi baru. Struktur organisasi itu biasanya sudah ada terlebih
dahulu dan ini relatif cenderung permanen, lebih-lebih struktur organisasi
departemen.
Disamping
itu unit-unit kerja tersebut dijabarkan kedalam unit-unit yang lebih kecil dan
masing-masing unit-unit kerja yang lebih kecil ini mempunyai tugas dan wewenang
yang berbeda-beda (dirjen, direktorat, bidang, seksi, devisi, dan sebagainya).
Masing-masing unit kerja tersebut sudah barang tentu akan menyusun perencanaan
dan kegiatan-kegiatan. Untuk pelaksanaan rencana rutin cukup oleh staf yang ada
sehingga tidak perlu menyusun organisasi baru.
Apabila
rencana atau kegiatan tersebut tidak dapat ditangani oleh struktur organisasi
yang telah ada biasanya dibentuk, misalnya panitia tim kerja (kelompok kerja),
komisi dan sebagainya.
4.
Monitoring
dan evaluasi
Fungsi
manajemen yang tidak kalah pentingnya dengan perencanaan dan pengorganisasian
adalah fungsi pengawasan dan pengarahan. Karena bagaimana baiknya perencanaan
dan pengorganisasian tanpa disertai dengan pengawasan dan pengarahan maka
niscaya dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
Tujuan
pokok dan fungsi pengawasan dan pengarahan adalah agar kegiatan-kegiatan dan
orang-orang yang melakukan kegiatan yang telah direncanakan tersebut dapat
berjalan dengan baik dan tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan yang
kemungkinan tidak akan tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
Pengawasan
dan pengarahan adalah suatu proses untuk mengukur penampilan kegiatan atau
pelaksanaan kegiatan suatu program yang selanjutnya memberikan
pengarahan-pengarahan sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.
Agar
pengawasan dapat berjalan dengan baik, sekurang-kurangnya 3 hal yang
diperhatikan yakni:
1. Objek
Pengawasan
Yaitu
hal-hal yang harus diawasi dalam pelaksanaan suatu rencana. Objek pengawasan
ini banyak macamnya, tergantung dari program atau kegiatan yang dilaksanakan.
Secara garis besar objek pengawasan dapat dikelompokkan menjadi 4, yakni :
a. Kuantitas
dan kualitas program, yakni barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan atau
program tersebut. Untuk program kesehatan yang diawasi adalah pelayanan yang
diberikan oleh unit kerja tersebut.
b. Biaya
program, dengan menggunakan 3 macam standar, yakni modal yang dipakai,
pendapatan yang diperoleh dan harga program. Dalam bidang kesehatan yang
dijadikan ukuran pengawasan adalah pembiayaan kegiatan atau pelayanan, hasil
yang diperoleh dari pelayanan dan keuntungan kegiatan atau pelayanan.
c. Pelaksanaan
(implementasi) program, yaitu pengawasan terhadap waktu pelaksanaan, tempat
pelaksanaan dan proses pelaksanaan, apakah sesuai dengan yang telah ditetapkan
dalam perencanaan.
d. Hal-hal
yang bersifat khusus, yaitu pengawasan yang ditujukan kepada hal-hal khusus yang ditetapkan oleh pimpinan atau
manajer.
2. Metode
Pengawasan
Tujuan
pokok pengawasan bukanlah mencari kesalahan namun yang lebih utama adalah
mencari umpan balik (feedback) yang selanjutnya memberikan pengarahan dan
perbaikan-perbaikan apabila kegiatan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Pengawasan dapat dilakukan dengan berbagai macam antara lain :
a. Melalui
kunjungan langsung atau observasi terhadap objek yang diawasi.
b. Melalui
analisis terhadap laporan-laporan yang masuk.
c. Melalui
pengumpulan data atau informasi yang khusus ditujukan terhadap objek-objek
pengawasan.
d. Melalui
tugas dan tanggung jawab para petugas khusus para pimpinan. Artinya fungsi
pengawasan itu secara implisit atau fungsi pejabat (pimpinan) yang diberikan
wewenang. Inilah yang sering disebut pengawasan melekat (waskat).
3. Proses
Pengawasan
Pengawasan
adalah suatu proses yang berarti bahwa suatu pengawasan itu terdiri dari
berbagai langkah, yakni :
a. Menyusun
rencana pengawasan. Sebelum melakukan pengawasan terlebih dahulu harus disusun
rencana pengawasan yang antara lain mencakup tujuan pengawasan, objek
pengawasan, cara pengawasan dan sebagainya.
b. Pelaksanaan
pengawasan, yaitu melakukan kegiatan pengawasan sesuai dengan rencana yang
telah disusun.
c. Menginterpretasi
dan menganalisis hasil-hasil pengawasan. Hasil-hasil pengawasan yang antara
lain berupa catatan-catatan, dokumen-dokumen, foto-foto, hasil-hasil rekaman
dan sebagainya diolah, diinterpretasi dan dianalisis.
d. Menarik
kesimpulan dan tindak lanjut. Dari hasil analisis tersebut kemudian disimpulkan
dan menyusun saran atau rekomendasi untuk tindak lanjut pengawasan tersebut.
Pengarahan
pada hakekatnya adalah keputusan-keputusan pimpinan yang dilakukan agar
kegiatan-kegiatan yang direncanakan dapat berjalan dengan baik. Dengan
pengarahan (directing) diharapkan :
a. Adanya
kesatuan perintah (unity of command), artinya dengan pengarahan ini akan
diperoleh kesamaan bahasa yang harus dilaksanakan oleh para pelaksana. Sehingga
tidak tercapai kesimpangsiuran yang dapat membingungkan para pelaksana.
b. Adanya
hubungan langsung antara pimpinan dengan bawahan. Artinya dengan pengarahan
yang berupa petunjuk atau perintah atasan yang langsung kepada bawahan, tidak
akan terjadi miskomunikasi. Disamping itu pengarahan yang langsung ini dapat
mempercepat hubungan antara atasan dan bawahan.
c. Adanya
umpan balik yang langsung. Pimpinan dengan cepat memperoleh umpan balik
terhadap kegiatan yang dilaksanakan. Selanjutnya umpan balik ini dapat segera
digunakan untuk perbaikan.
Bagi
para pelaksana atau karyawan bukan pimpinan pengawasan akan bermanfaat juga,
antara lain :
a. Para
karyawan memperoleh informasi yang jelas tentang apa yang harus dikerjakan.
Apabila kurang jelas mereka dapat langsung minta penjelasan lagi. Dengan cara
ini maka kesalahan-kesalahan segera dapat dihindari.
b. Para
karyawan secara tidak langsung berada dalam suatu proses belajar. Karena dengan
proses pengawasan semacam ini karyawan memperoleh informasi dan
keterampilan-keterampilan yang benar dan apabila terjadi kesalahan-kesalahan
segera memperoleh perbaikan dari atasan.
c. Para
karyawan lebih merasa diperhatikan atau dihargai oleh pimpinan. Akibatnya akan
tercipta hubungan yang akrab antara pimpinan dengan bawahan.
Sumber :
Prof. Dr. Soekidjo
Notoatmodjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet. ke-2, Mei.
Jakarta : Rineka Cipta. 2003.
No comments:
Post a Comment