Sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa
pengetahuan didapat dengan berbagai pendekatan seperti halnya pengetahuan
berupa mitos atau legenda menggunakan pendekatan kepercayaan yakni kebenarannya
hanya atas dasar percaya maka pendekatan pengetahuan semacam ini bersifat irrasional,
begitu pula pengetahuan yang sifatnya falsafi pendekatan kebenarannya hanya
mengandalkan nalar=akal = rasio belaka maka dikenalah pendekatan pengetahuan
rasional sehingga muncullah persepsi paham kebenaran irrasionalime dan
rasionalisme.
Ilmu alamiah sebagai hasil perkembangan pola pikir
manusia yang terakumulasi dari hasil pengamatan dan pengalaman telah mendorong
manusia untuk melahirkan pendekatan kebenaran yang tidak hanya mengandalkan
kemampuan rasio belaka, dorongan tersebut setidaknya terdiri dari dua sisi ;
yakni dorongan pertama adalah dorongan untuk memuaskan diri sendiri yang
sifatnya non praktis atau teritis guna memenuhi kuriositas dan memahami tentang
hakikat alam semesta dan segala isinya, yang selanjutnya melahirkan pure
science ( Ilmu pengetahuan murni ). Sementara dorongan yang ke-dua
adalah dorongan yang sifatnya praktis, dimana ilmu pengetahuan dimanfaatkan
untuk meningkatkan tarap hidup yang lebih tinggi, dan selanjutnya disebut dengan
Applied science ( Ilmu pengetahuan terapan/teknologi).
Kapan ilmu pengetahuan (sains) lahir ? secara waktu
mungkin sulit untuk ditetapkan tetapi yang jelas sesuatu dinyatakan pengetahuan
sains adalah apabila pendekatan kebenaran tertumpu pada rational approach
and empiric approach yakni kebenaran yang secara rasional dapat dimengerti
dan difahami serta dibuktikan secara fakta dan menggunakan peralatan ilmiah.
Pendekatan senacam itu sebenarnya sudah dilakukan pada masa filosuf muslim di
Persia dengan bukti munculnya ilmu-ilmu terapan seperti ilmu perbintangan, ilmu
kimia dan ilmu kedokteran, tetapi kebenaran ini tidak deklarasikan oleh ilmuwan
barat, mereka mengklaim bahwa kelahiran ilmu pengetahuan sains (ilmiah) adalah
setelah ditemukannya teropong bintang (sekalipun sejak masa filsafat muslim
teleskop sudah ada ) yang mampu membuktikan kebenaran teori Heliosentris
Copernicus. Memang sejak penemuan teleskop telah banyak membantu para ilmuan
untuk dapat membuktikan secara empiric terhadap konsep-konsepnya.
Berikut ini dijelaskan beberapa ilmuan yang telah
menancapkan tonggak sejaran perkembangan ilmiah ;
Nikolas Copernicus (1473 – 1543 M) Ia seorang astronom,
matematika dan pengobatan, Tulisannya yang terkenal dan merombak pandangan
Yunani yang berjudul De Revolutionibus Orbium Caelestium ( Peredaran
alam semesta) buku ini ditulis pada tahun 1507 M tetapi tidak segera
dideklarasikan karena konsepnya bertentangan dengan konsep lama yang sudah
mendapat justifikasi dari penguasa. Pokok-pokok ajarannya sebagai berikut
;
- Matahari
adalah pusat dari system solar, dimana system itu bumi adalah salah satu
planet diantara planet-planet lain yang beredar mengelilingi matahari.
- Bulan beredar mengelilingi bumi
dan bersama bumi mengelilingi matahari.
- Bumi berputar pada porosnya dari
barat ke timur yang mengakibatkan adanya siang dan malam dan pandangan
gerakan bintang-bintang.
Pengikut
Copernicus adalah Bruno (1548 – 1600 M) memperoleh kesimpulan lebih jauh lagi,
yaitu ;
- Jagat raya ini tidak ada batasnya
- Bintang-bintang tersebar di
seluruh jagat raya
Karena
keberaniaannya mendeklarasikan pendapatnya yang bertentangan dengan keyakinan
penguasa pada itu maka Bruno dianggap sebagai orang yang kemasukan setan
(kesurupan) dan dihukum dengan cara dibakar hidup-hidup hingga mati.
Ahli astronomi
lainnya dalah Johannes Kepler (1571 – 1630 M ) Pokok-pokok pikirannya adalah :
- Planet-planet
beredar mengelilingi matahari pada suatu garis edar yang berbentuk elips
dengan suatu focus.
- Bila
ditarik garis imajinasi dari planet ke matahari dan sementara itu ia
bergerak menurut garis edarnya, maka luas bidang yang ditempuh pada jangka
waktu yang sama adalah sama.
- Pangkat
dua dari waktu yang dibutuhkan sebuah planet mengelilingi matahari secara
penuh adalah sebanding dengan pangkat tiga dari jarak rata-rata planet itu
terhadap matahari.
Konsep-konsep
diatas dibenarkan oleh Galileo Galilei (1564 –1642 M) dengan menggunakan
teleskopnya yang terbesar mampu melihat tatasurya dan mengumumkan hasil
penemuannya bahwa teori Geosentri dianggap salah dan yang benar adalah teori
Heliosentris sebagaimana dikemukakan oleh Copernicus dan Kepler sekalipun
bertentangan dengan pendapat penguasa yang mempertahan teori geosentris dan
menganggap suci bumi dan menjadi pusat tatasurya sebagai tempat singgasana para
raja.
A.
KRITERIA ILMIAH
Suatu
pengetahuan dinyatakan ilmiah apabila dapat memenuhi criteria sebagai berikut ;
- Sistematis
- Berobjek
- Bermetoda
- Universal
Kebenaran
pengetahuan ilmiah harus bersifat sistematis yakni bertautan dan meiliki
hubungan kebanaran yang saling mendukung dengan pengetahuan lainnya (tidak
berdiri sendiri ) dan memiliki langkah yang tersusun dalam menemukannya,
disamping itu kajian ilmu harus memiliki objek yang jelas karena pada
hakekatnya pengetahuan ilmiah itu adalah bertujuan dalam justifikasi objek
melalui metoda ilmiah (scientific methode) yang operasional terarah dan terukur
dan mengandung fakta kongkrit sehingga menghasilkan kebenaran yang bersifat
universal yakni berlaku secara menyuluruh.
Perlu
dikemukakan pula bahwa disamping adanya kriteria ilmiah yang mampu menghasilkan
kebnenaran ilmiah, juga adapula criteria kebenaran yang sifatnya non ilmiah,
yakni ;
- Perasaan
- Intuitif
- Trial and error
Perasaan merupakan salah satu cara
untuk menarik kesimpulan yang tidak berdasarkan nalar tentu saja hal ini akan
bersifat subjektif karena perasaan setiap orang satu dengan lainnya memiliki
sensitifitas yang berbeda.
Sedangkan instuisi merupakan
kegiatan berpikir yang tidak analistis, tidak berdasarkan pola berpikir
tertentu, pendapat yang berdasar intuisi timbul dari pengetahuan-pengetahuannya
yang terdahulu melalui proses berpikir yang tidak disadari. Seolah-olah
pendapat itu muncul begitu saja tanpa dipikir terlebih dahulu. Setiap orang
memiliki kepekaan dan ketajaman intuitif yang tingkatnya berbeda-beda, mungkin
orang yang terlatih intuisinya akan memeiliki kepekaan yang tinggi dan
memungkinkan intuisinya dapat mendekati kebenaran atau sebaliknya bagi orang
yang memiliki kepekaan dan ketajaman intuisi yang rendah.
Sementara
kebenaran dengan criteria trial and error sekalipun tingkat kebenaran lebih
maju dibanding prasangka dan intuitif, tetapi pendekatan ini dipandang tidak
efesien karena cara untuk memperoleh pengetahuan melalui coba-coba atau
untung-untungan dan lebih cenderung error daripada berhasil.
B.
METODA ILMIAH DAN OPERASIONALNYA
Kebenaran
ilmu alamiah akan terlihat dari metoda yang digunakan, jika sesuatu pengetahuan
didapat melalui metoda ilmiah maka pengetahuan itu dinyatakan ilmiah dan
sebaliknya jika tidak melalui metoda ilmiah maka pengetahuan itu dinyatakan
tidak ilmiah, lebih lanjut di bawah ini dijelaskan prosedur dan langkah-langkah
methoda ilmiah.
a.
Pengindraan
Pengindraan
merupakan langkah awal yang penting dalam mengenali objek masalah, tetapi
akurasi pengindraan tidak dapat dijadikan ajeg kebenaran karena pengaruh
kondisi dan sifat pengindraan yang terbatas dalam mengenali objek, oleh karena
itu perlu adanya pengulangan secara berkali-kali dan memerlukan waktu yang
relatif lama, biasanya orang yang terlatih memiliki pengindraan yang tajam,
seorang ahli musik memiliki pengindraan pendengaran yang sensitive sehingga
peka terhadap kebenaran musik. Begitu pula ahli peneliti perlu terlatih dalam
mengindra objek supaya tidak keliru, maka untuk itu agar pengindraan dapat
ajeg, objektif perlu dibantu dengan alat indra buatan yang ditera akurasinya
seperti termometer sebagai alat untuk mengukur suhu.
b.
Masalah
Langkah
selanjutnya setelah proses pengindraan terhadap suatu objek yang telah
direnungkan terlebih dahulu adalah menentukan masalah hasil pengindraan, untuk
mengetahui sesuatu itu menjadi masalah apabila objek itu mengandung pertanyaan,
seperti pertanyaan apa ? bagaimana ? dan mengapa ? suatu objek
itu begini atau begitu, tentu saja pertanyaan para ilmuwan akan berbeda dengan
orang umum artinya pertanyaan itu harus terukur dan teruji sehingga akurasi
jawabannya dapat dipertanggungjawabkan. Perlu ditegaskan bahwa pertanyaan yang
dimaksud adalah mengandung objek yang jelas atau dapat diindra, bukan
pertanyaan mengapa alam ini ada ? karena pertanyaan seperti ini bukan kajian
ilmu alamiah.
c.
Hipotesa
Hipotesa
atau dugaan sementara merupakan jawaban sementara dari pertanyaan masalah,
untuk mengetahui apakah hipotesa itu benar perlu diuji dan eksperimen yang
akurat dan didukung oleh data fakta yang kuat, bila ternyata fakta berbicara
lain maka perlu disusun hipotesis baru. Biasanya ilmu membuat hipotesa terdiri
dari dua klausal positif dan negatif yakni dua jawaban yang satu dengan lainnya
saling bertolak belakang., diantara kedua hipotesa itu diharapkan salah satunya
dapat didukung oleh data dan fakta hasil eksperimen maupun survai.
d.
Eksperimen
Eksperimen
merupakan pengujian terhadap hipotesa yang dilakukan untuk mendapatkan
pengumpulan data atau fakta melalui kegiatan observasi langsung atau
percobaan/eksperimental. Selanjutnya fakta-fakta itu dikumpulkan dan dianalisa
apakah mendukung hipotesa yang diajukan atau tidak.
e.
Penarikan Kesimpulan
Penarikan
kesimpulan dilakukan berdasarkan atas penilaian melalui analisis terhadap
fakta-fakta, untuk melihat apakah hipotesa itu yang diajukan itu diterima atau
sebaliknya ditolak. Hipotesa yang diterima merupakan pengetahuan yang telah
diuji kebenarannya dan sebagai bagian dari ilmu pengetahuan.
Dengan
demikian ilmu pengetahuan itu disusun secara sistematis dengan menggunakan
metoda tertentu dan diuji kebenarannya secara empiris dan berlaku secara
universal.
C.
SIKAP ILMIAH
Salah satu asfek tujuan mempelajari
Ilmu alamiah dasatr ini adalah bagaimana menanamkan sikap ilmiah bagi
mahasiswa, berikut ini di jelaskan beberapa sikap ilmiah yang harus dimilki
oleh seorang ilmuan ;
1.
Jujur
Sebagai ilmuan wajib melaporkan
hasil pengamatannya secara objektif. Dan menyusun penelitian hingga pelaporan
harus disampaikan sejujur-jujurnya sehingga terbuka bagi peneliti lain bila
dilakukan pengulangan.
2.
Terbuka
Seorang iolmuan mempunyai pandangan
luas , terbuka bebas dari praduga, ia tidak memperoleh buah pikirannya dari
dugaan, ia akan terus mendapatkan kebenaran dengan prosedur ilmiah dan membuka
diri bagi pihak lain untuk menguji dan mengkritik kebenarannya atau selalu
menghargai kebenaran orang lain.
3.
Toleran
Seorang ilmuwan tidak merasa bahwa
dirinya paling benar, bahkan ia bersedia mengakui bahwa oprang lain mungkin
lebih benar. Dalam menambah ilmu pengetahuan ia bersedia belajar dari orang
lain, membandingkan pendapatnya dengan pendapat orang lain, ia memiliki
tenggang rasa atau sikap toleran yang tinggi, jauih dari sikap angkuh.
4.
Skeptis
Skeptis
adalah sikap kehati-hatian dan kritis dalam memperoleh informasi, tidak sinis
tetapi meragukan kebenaran informasi sebelum teruji yang didukung oleh data
fakta yang kuat sehingga dalam membuat pernyataan, keputusan atau kesimpulan
tidak keliru.
5.
Optimis
Optimis
adalah berpengharapan baik dalam menghadapai segala sesuatu, tidak putus asa,
dan ia selalu berkata “ Beri saya kesempatan untuk berpikir dan mencoba
mengerjakannya” . Seorang yang
memiliki kecerdasan optimis akan memiliki rasa humor yang tinggi. John Von
Neuman memberi nama hasil karyanya dengan sebutan MANIAC ( sehingga membuat
peserta seminar tertawa) padahal maniac itu istilah dari singkatan Mathematical
Analyzer, Numerical Integrator and Computer.
6. Pemberani
Seorang
ilmuan harus memiliki sikap pemberani dalam menghadapi ketidakbenaran,
kepura-puraan, penipuan, kemunafikan, dan kebathilan yang akan menghambat
kemajuan. Sikap keberanian ini banyak dicontohkan oleh para ilmuan seperti
Copernicus, Galilleo, Socrates, Bruno yang telah banyak dikenal orang.
Copernicus dan Galilleo diasingkan oleh penguasa karena dengan berani menentang
konsep Bumi sebagai pusat tata surya, matahari dan benda lainnya berputar
mengelilingi bumi (geosentris). Dan ia mendeklarasikan justru mataharilah yang
menjadi pusat tata surya bumi dan planet lainnya berputar mengitari matahari
(Heliosentris), Socrates memilih mati minum racun daripada harus mengakui
sesuatu yang salah. Bruno tidak takut dihukum mati dengan cara dibakar demi
mempertahankan kebenaran.
Kisah
keberanian ilmuan yang cukup menarik dan menjadi tauladan adalah kisah Prof.
Peabody, memberikan kuliah terahir tentang “Perawatan Orang Sakit” Kuliah ini
sangat jelas, penuh rasa kasih sayang dan belas kasih, saat memberikan kuliah
saat itu berumur 46 tahun, segar dan bugar, fasih dalam menyampaikan materi
kuliahnya. Tetapi dibalik ketenangannya itu Peabody mengidap penyakit kanker
ganas yang telah diderita, ditekuni , diteliti dan dipahami secara seksama
secara medis mengenai setiap gejala kanker yang dideritanya. Sehari sebelum
meninggal dunia ia menulis sendiri laporan penyakitnya dengan harapan dapat
dijadikan bahan penelitian pengobatan lebih lanjut. Kisah yang sama juga
dilakukan oleh Marry Cury seorang fisikawan, kimiawan yang berhasil menemukan
zat radio aktif, bertahun-tahun ia menekuni dan meneliti zat radioaktif dengan
harapan dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia, dengan perlahan radiasi
unsure tersebut merambah kedalam tubuh Marry Cury dan ia tahu sehingga
mengindap penyakit kanker, dalam setiap kuliahnya menjelaskan tentang
radioaktif tidak pernah menunjukan ketakutan dan bahaya radiasinya dan itu
terus dirahasiahkan hingga ia menjelaskan sendiri pada saat-saat ajalnya tiba.
7.
Kreatif
Ilmuwan
dalam mengembangkan ilmunya harus kreatif, Louis Al-Vares (ilmuwan fisika
Berkeley) Ia seorang pemain golf. Dengan kreativitasnya ia membuat alat analisator
stroboskop untuk meningkatkan cara bermain golf. Kemudian alat itu
dihadiahkan kepada presiden Esenhower yang juga pemain golf, dan sejak itu ia
memegang paten untuk pembuatan alat tersebut. Saat ini untuk menghargai
kreativitas ilmuwan dalam meningkatkan kesejahteraan manusia diberikan
penghargaan NOBEL seperti yang pernah diterima oleh keluarga Cury untuk fisika
dan kima.
D.
FILSAFAT ILMU ALAMIAH
Filosofis
ilmu alamiah sebagai dasar pengembangan ilmu mengacu pada nilai yang berkembang
sejalan dengan pola pikir manusia dalam bentuk budaya dan norma yang dianut dan
menjadi pandangan hidup, untuk itu dibawah ini diuraikan beberapa dasar
filsafat ilmu alamiah ;
1.
Vitalisme
Ilmu
alamiah awalnya tidak dapat terlepas dari pengaruh kepercayaan atau mitos,
filsafat vitalisme merupakan doktrin yang menyatakan adanya kekuatan di luar
alam. Kekuatan itu memiliki peranan yang esensial mengatur segala sesuatu yang
terjadi di alam semesta ini. Kekuatan itu dikenal dengan istilah élan vital,
Tuhan, yang maha kuasa dll.
2.
Mekanisme
Mekanisme
merupakan pandangan yang menyatakan bahwa sebagai penyebab yang mengatur semua
gerakan di alam semesta ini adalah sejumlah hukum alam ( nature of law
), dengan demikian menurut paham ini semua gejala alam semesta terjadi dengan
sendirinya sesuai dengan hukum alam sehingga pandaqngan ini akan menyamakan
antara gejala mahluk hidup dengan mahluk tak hidup sehingga tidak perbedaan
yang hakiki diantaranya. Dengan demikian akan menggiring pandangan manusia pada
paham materialisme yang kemudian menjadi ateisme.
3.
Agnotisme
Agnotisme
merupakan paham yang tidak mempedulikan ada tidaknya kekuatan di luar alam
(sang pencipta, Tuhan, yang maha kuasa, élan vital ). Penganut paham ini hanya
mempelajari gejala alam semata, paham ini akan menggiring manusia bersikap sekuler
sebagaimana banyak dianut ilmuwan barat.
Indonesia
yang menjunjung tinggi falsafah Pancasila yang secara seimbang akan dapat
menjembatani antara paham vitalisme dengan mekanisme yang justru peduli pada
sang pencipta tidak seperti halnya agnotisme, sehingga pengetahuan alamiah
secara seimbang dilandasi dengan pengetahuan keyakinan, Sehingga ilmuwan
Indonesia selalu dalam kondisi Teisme.
E.
KEUNGGULAN ILMU ALAMIAH
Sebagaimana
telah dijelaskan dimuka bahwa ilmu alamiah memiliki criteria tersendiri berupa
sitematis, objektif, metodik dan universal, dimana hal ini secara tidak
langsung akan menumbuhkan sikap ilmiah yang sangat bermanfaat bagi manusia,
dibawah ini dijelaskan beberapa keunggulan yang bermanfaat bagi manusia ;
a.
Mencintai kebenaran yang obyektif dan bersikap adil, sehingga akan membawa pada
hidup yang tenang dan bahagia.
b.
Jika ada penemuan baru yang lebih benar, maka ilmu yang lama tidak berlaku
lagi, sehingga disadari bahwa ilmu pengetahuan itu tidak mutlak atau bersifat
relatif. Sedang yang mutlak datangnya dari Allah SWT.
c.
Dengan ilmu pengetahuan orang tidak lagi percaya pada takhayul atau mitos,
karena semua yang ada di alam ini terjadi melalui proses hukum alam atas izin
Allah SWT.
d.
Ilmu pengetahuan akan membimbing kita untuk tidak berpikir melalui prasangka,
tetapi berpikir secara objektif, terbuka dan sistematis, suka menerima pendapat
orang lain dalam setiap keputusannya.
F.
KETERBATASAN METODA ILMIAH
Metoda
ilmiah merupakan cara efektif dalam mendapatkan kesimpulan karena pengetahuan
dianalisa berdasarkan prosedur baku dengan ketelitian yang dapat diandalkan
baik secara rasional maupun empirik. Tetapi harus diakui kebenaran ilmu
pengetahuan hasil dari metoda ilmiah bersifat tentative, artinya hanya
bersifat semntara saja sebelum ada konsep baru yang lebih benar. Kebenaran
dalam sains tidak pernah mutlak dan tidak pernah lengkap serta tuntas. Sebagai
manusia para ilmuwan sadar dan berendah hati karena mereka yakin sangat sedikit
apa yang telah mereka ketahui. Pada suatu hari Dr. Walter Stewart,
seorang ekonom berdiri dimuka pintu auditorium di Princeton University
mengamati sekelompok mahasiswa fakultas sains dan matematika yang keluar dari
sebuah seminar, mereka itu riuh, aktif, cerdas, dan cekatan. Dalam suatu
kesempatan ia menghentikan salah seorang mahasiswa yang keluar dari auditorium
secara tergesa-gesa dan bertanya, Bagaimana seminarnya ? Mereka menjawab
hebat, segala sesuatu yang kami ketahui minggu lalu tentang sains tidak
benar lagi saat ini . Disamping itu Ilmu alamiah memiliki keterbatasan
objek yaitu tidak dapat menyentuh wilayah diluar alam (tentang yang ghaib),
tidak bisa dijadikan pembenaran dalam seni estetis ( indah tidak indah), etika
(baik dan buruk) dan lain-lain.
No comments:
Post a Comment