A. GAYA AFILIATIF
Kepemimpinan dengan gaya afiliatif adalah seorang pemimpin
yang memberikan jalan bagi anggotanya untuk bertindak. Seorang pemimpin
mengedepankan kebahagiaan dari anggotnya. Setiap anggotanya memiliki kesempatan
yang sama dalam memberikan ide-ide untuk kemajuan dari organisasi. Pemimpin
akan sangat disenangi oleh semua bawahan atau anggotanya karena dalam
organisasi semua memiliki sifat terbuka.
Gaya affiliative ini sangat
berguna di saat anggota tim telah banyak dikecewakan oleh situasi dan mengalami
banyak hal yang tidak menyenangkan di dalam organisasi. Pemimpin cenderung
turun dan mendengarkan aspirasi dari anggota serta menggunakan empati dalam
berkomunikasi dengan anggotanya. Gaya affiliative cenderung menyenangkan
bagi anak buah, namun dapat memiliki efek bumerang, yaitu sulit menekan anak
buah untuk memunculkan produktivitas yang tinggi
Kelemahan dari teori ini adalah anggotanya akan merasa
ketergantungan kepada pemimpinnya, karena pemimpin selalu membantu dan
mengedepankan anggota atau bawahannya, pemimpin ibarat sebatang lilin yang rela
terbakar untuk menerangi sekelilinganya. Selain itu apabila seseorang yang
belum mengenal pemimpin tersebut akan menganggap remeh pemimpinnya, karena
seorang pemimpin selalu terbuka dengan masalah yang dihadapi dan meminta
pendapat dari bawahannya sehingga orang akan menanggap bahwa pemimpinnya tidak
memilii kemampuan yangn memadai.
Selain itu gaya
afiliatif memiliki kelebihan yaitu terjadi harmonisasi antara pemimpin dan
bawahannya karena adanya keterbukaan. Sehingga dalam mencapai tujuan
organisasinya dapat saling bekerja sama dengan baik. Kelebihan yang paling
utama adalah para anggotanya merasa senang karena pemimpin memprioritaskan
semua kegiatan dan tujuannya pada anggotanya.
GAYA COACHING
Sesuai dengan namanya, pemimpin
dengan gaya seperti ini lebih banyak fokus pada pengembangan skill dari
anggotanya. Ia mencocokkan peluang untuk mengembangkan anak buahnya dengan
kewajiban yang harus diberikan oleh organisasinya. Misalnya, pada saat sebuah
organisasi membutuhkan inovasi, ia akan memberikan kesempatan kepada beberapa
anggota timnya untuk bereksperimen dan menjadi “pelatih” yang selalu memotivasi
mereka dalam mendorong keberhasilan inovasi yang akan berguna bagi organisasi.
Gaya seperti ini sangat baik dalam mengembangkan kemampuan anggota, namun tidak
semua organisasi memiliki kemewahan dari segi waktu untuk memberikan waktu bagi
anggotanya untuk “trial-error” atau coba-coba.
Gaya coaching tujuannya mengembangkan bawahannya untuk masa
depan dan berusaha membantu dan membimbing bawahan untuk perbaikan serta untuk
tujuan jangka panjang. Masalah dari gaya ini adalah menyita waktu. Jenis kepemimpinan dengan gaya coaching
menuntut kesempurnaan dari anggotanya. Akan tetapi jenis ini menetukan
ketentuan yang berbeda-beda untuk setiap orang. Pemimpin menuntut anggotanya
untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan bakat yang dimiliki masing-masing
anggota. Karena pemimpin berpendapat bahwa dengan berkembangnya anggota maka
akan berkembang pula organisasi yang dipimpinnya.
Kelemalan dari kepemimpinan gaya ini adalah seorang pemimpin
memerlukan waktu yang lama untuk mengembangkan anggotannya satu-persatu karena
setiap individu berbeda-beda sehingga perlu diadakan pembicaraan secara
langsung dengan anggota satu persatu. Selain itu anggota yang malas akan merasa
tertekan karena selalu dituntut untuk melakukan hal-hal tertentu.
Selain kelemahan tentunya jenis kepemimpinan gaya ini juga
memiliki kelebihan yaitu pemimpin akan mengenali semua anggota yang ada dalam
organisasinya. Hal ini juga dapat untuk menggali kemampuan terpendam dari
anggotanya dan juga memperbaiki kelemahan-kelemahan dari anggotanya.
C. CONTOH
PEMIMPIN DENGAN GAYA AFILIATIF DAN GAYA COACHING
a.
Gaya Afiliatif
1. Abraham
Lincoln
Lahir di Hardin County, Kentucky, 12 Februari 1809-meninggal di Washington, D.C., 15 April 1865 pada umur
56 tahun) adalah Presiden Amerika Serikat yang ke-16, menjabat sejak 4 Maret 1861 hingga
terjadi pembunuhannya. Dia memimpin bangsanya keluar dari Perang Saudara Amerika, mempertahankan persatuan bangsa,
dan menghapuskan perbudakan. Namun, saat perang telah mendekati akhir, dia
menjadi presiden AS pertama yang dibunuh. Sebelum pelantikannya pada tahun 1860
sebagai presiden pertama dari Partai Republik, Lincoln
berprofesi sebagai pengacara, anggota legislatif Illinois, anggota
DPR Amerika Serikat, dan dua
kali gagal dalam pemilihan anggota senat.
Abraham Lincoln bekerja gaya
kepemimpinan yang berbeda tergantung pada kebutuhan situasi. Seperti banyak pemimpin politik, dia paling sering digunakan
gaya afiliatif. Lincoln mengasah keterampilan
ini selama bertahun-tahun sebagai
pengacara berlatih, terutama selama bulan-bulan ketika ia naik sirkuit
di Illinois pedesaan
dengan hakim dan pengacara
lainnya. Di malam hari mereka semua akan berkumpul untuk makan malam dan bercerita.
Lincoln mengakui cerita
yang merupakan salah satu cara yang
paling efektif pengacara membujuk
dan berkomunikasi dan salah satu cara yang paling efektif
politisi itu dari afiliasi: "Lincoln adalah selalu
menjadi pusat perhatian. Tidak ada yang bisa
menyamai aliran tidak pernah berakhir
nya cerita atau
kemampuannya untuk mereproduksi mereka dengan tawa menular
tersebut. Sebagai kisahnya berliku menjadi
lebih terkenal, kerumunan warga desa ditunggu kedatangannya
di setiap berhenti untuk kesempatan untuk mendengar pendongeng utama. Di
mana-mana ia pergi, ia memenangkan pengikut setia, persahabatan
yang kemudian berani
usahanya untuk kantor. Kehidupan politik di tahun-tahun ini, sejarawan Robert Wiebe
telah mengamati, "rusak ke dalam kelompok laki-laki yang terikat bersama oleh saling percaya."
Dan tidak ada lingkaran politik lebih setia
terikat dari band
sebangsa bekerja untuk Lincoln di Chicago.
Gaya afiliatif Lincoln icontohkan oleh kabinetnya, Tim Rivals Lincoln memenangkan nominasi
Partai Republik untuk presiden
di Chicago pada
tahun 1860, bukan dengan menjadi
pilihan pertama dari mayoritas, tetapi dengan menjadi pilihan kedua mayoritas, karena tidak ada calon yang
bisa marshal mayoritas pada pemungutan suara pertama. Pemimpin pada pemungutan suara pertama adalah William H.
Seward, republik Senator
dari New York,
tapi ia tidak bisa perintah mayoritas.
Lincoln adalah kedua
mengejutkan. Kandidat lainnya termasuk Salmon P.
Chase, gubernur republik
dari Ohio, dan
Edward Bates, seorang republik negara perbatasan
terkemuka dari Missouri.
Pada pemungutan suara kedua
dukungan Seward tergelincir
dan Lincoln diperoleh.
Lincoln menang mudah pada pemungutan suara ketiga. Dia pergi pada memenangkan
pemilihan presiden sebagai demokrat
yang buruk dibagi
pada isu-isu perbudakan dan hak negara. Setelah memenangkan kursi kepresidenan sebagai
pengacara sedikit diketahui dari
Illinois dan berhadapan
dengan pemisahan diri dekat,
Lincoln berangkat untuk mengumpulkan kabinet terkuat
yang dia bisa untuk cuaca badai politik menjelang. William H. Seward Untuk saingan terkuat,
William Seward, ia ditawari posisi paling bergengsi di kabinetnya, bahwa dari
Sekretaris Negara. Namun, pada bulan-bulan pertama kepresidenan Lincoln, Seward mencoba,
di kali, untuk gerhana Lincoln, seolah-olah Lincoln
hanyalah boneka. Sebagai
contoh, selama krisis Fort
Sumter dari April
1861, segera setelah asumsi Lincoln kantor,
Seward berusaha untuk mengarahkan pasokan dari Ft. Sumter, yang mereka telah diperintahkan oleh Lincoln, ke Ft. Pickens. Hal ini menyebabkan pertemuan tengah malam yang tidak biasa antara Presiden, Seward, dan Gideon Welles,
Sekretaris Angkatan Laut, untuk
menyelesaikan masalah ini. Tidak
ingin menyinggung Seward, Lincoln menyalahkan
dirinya sendiri untuk campur-baur.
Kejadian ini menunjukkan gaya afiliatif di tempat kerja, di mana Presiden bersedia bertemu dengan Seward dan Welles pada tengah malam untuk menyelesaikan konflik, dan kemudian menyalahkan diri sendiri untuk itu. Kesabaran Lincoln tampaknya telah akhirnya terbayar: Lincoln semakin dekat ke Seward daripada anggota lain dari pemerintahannya. Mereka menghabiskan berjam-jam santai bersama-sama (Seward hidup blok dari Gedung Putih) swapping anekdot politik dan cerita-cerita lain, dan Seward menjadi salah satu yang paling setia dan efektif pendukung presiden. Dia sering memuji Lincoln publik sebagai "yang terbaik dan paling bijaksana pria yang [telah] pernah dikenal." "Hal ini karena presiden mengatakan, bahwa kemurahan hati-Nya hampir super," tulisnya. "Presiden adalah yang terbaik dari kami".
Kejadian ini menunjukkan gaya afiliatif di tempat kerja, di mana Presiden bersedia bertemu dengan Seward dan Welles pada tengah malam untuk menyelesaikan konflik, dan kemudian menyalahkan diri sendiri untuk itu. Kesabaran Lincoln tampaknya telah akhirnya terbayar: Lincoln semakin dekat ke Seward daripada anggota lain dari pemerintahannya. Mereka menghabiskan berjam-jam santai bersama-sama (Seward hidup blok dari Gedung Putih) swapping anekdot politik dan cerita-cerita lain, dan Seward menjadi salah satu yang paling setia dan efektif pendukung presiden. Dia sering memuji Lincoln publik sebagai "yang terbaik dan paling bijaksana pria yang [telah] pernah dikenal." "Hal ini karena presiden mengatakan, bahwa kemurahan hati-Nya hampir super," tulisnya. "Presiden adalah yang terbaik dari kami".
2.
Chairul Tanjung
Chairul Tanjung (lahir di Jakarta, 16 Juni 1962; umur 52 tahun) adalah pengusaha asal Indonesia. Ia menjabat sebagai Menko Perekonomian menggantikan Hatta Rajasa sejak 19 Mei 2014 hingga 27 Oktober 2014. Namanya dikenal luas sebagai
usahawan sukses bersama perusahaan yang dipimpinnya, Para Group. Chairul telah memulai berbisnis
ketika ia kuliah dari Jurusan Kedokteran
Gigi Universitas
Indonesia. Sempat
jatuh bangun, akhirnya ia sukses membangun bisnisnya.
Perusahaan konglomerasi miliknya, Para Group menjadi sebuah perusahaan bisnis
membawahi beberapa perusahaan lain seperti Trans TV dan Bank Mega.
Dalam menjalankan kepemimpinan, iamemberi
panutan terhadap anak buah. Cara ini terbukti ampuh. "Jika anda
mencontohkan kerja keras maka anak buah akan kerja keras. Ambisi membesarkan
semua lini bisnis CT Corp semakin besar. Dalam memimpin Bank Mega
dirancang untuk menjadi bank terbesar dalam 10 tahun ke depan. Strateginya,
Bank Indonesia akan banyak membuka cabang di Indonesia Timur dalam tiga tahun
mendatang. Targetnya 200 kantor baru di Indonesia Timur, sehingga bisa menjadi
bank terbesar di wilayah itu. Dan dalam gaya memimpinnya, Chairul Tanjung
sengaja berkeliling Indonesia untuk bertemu dengan seluruh karyawannya. Dia
menjelaskan bagaimana kondisi perekonomian saat ini agar pegawainya siap
menghadapi krisis. Ada tiga pesan, pertama, jika ternyata krisis ini sangat
panjang dan semua orang harus mati, maka pastikan menjadi orang yang terakhir
mati. Kedua, jika krisis ini sangat panjang dan hanya tersisa satu orang, maka
pastikan anda menjadi orang tersebut. Ketiga, jika tidak terjadi krisis maka
pastikan anda menjadi orang yang paling bahagia karena anda sudah siap.
b.
Gaya Coaching
1.
Jokowi (Joko Widodo)
Ir. H. Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi (lahir di
Surakarta, Jawa Tengah, 21 Juni 1961; umur 53 tahun) adalah Presiden
Indonesia ke-7 yang
menjabat sejak 20 Oktober 2014. Ia
terpilih bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla dalam Pemilu
Presiden 2014.
Jokowi pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sejak 15 Oktober 2012 hingga 16 Oktober 2014 didampingi Basuki Tjahaja
Purnama sebagai
wakil gubernur dan Wali Kota Surakarta (Solo) sejak 28 Juli 2005 sampai 1 Oktober 2012 didampingi F.X. Hadi Rudyatmo sebagai wakil wali kota. Dua tahun
sementara menjalani periode keduanya di Solo, Jokowi ditunjuk oleh partainya, Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk memasuki pemilihan Gubernur DKI Jakarta bersama
dengan Basuki Tjahaja
Purnama (Ahok).
Jokowi pada saat menjabat sebagai
Gubernur DKI Jakarta mengumpulkan semua kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) di Ruang Pola, kompleks Balaikota Jakarta. Maksud dirinya mengumpulkan
semua kepala SKPD bukan hanya untuk berkoordinasi mengenai semua program, tapi
lebih runcing, Jokowi ingin memastikan semua bawahannya memiliki rencana
kerja yang detil dan langsung menyentuh akar permasalahan. Jokowi beri arahan untuk tahun 2013, masalah-masalah
kecil secara detil mulai kita ubah. Inilah gaya
coaching kepemimpinan jokowi, memberi pengarahan dan membina kepala SKPD
atau bawahannya.
2. Jose Morinho
José Mário
dos Santos Mourinho Félix, lebih
dikenal dengan nama José Mourinho, (Portugal,
26 Januari
1963; umur 51 tahun)
adalah seorang pelatih sepak bola asal Portugal
dan termasuk salah satu pelatih terbaik dalam sejarah sepak bola dunia atas
prestasi-prestasi yang sudah diraihnya selama ini. Ia kembali ke Chelsea pada 3 Juni
2013, seiring pengumuman
situs resmi klub tersebut.
Jose
Mourinho
menuntut seluruh pemainnya di Chelsea membina kultur dan mental juara sehingga mereka mengharamkan
posisi selain yang teratas. The Blues saat ini bercokol di peringkat
kedua klasemen Premier League, menguntit Arsenal dengan selisih 4 poin.
Dan Mourinho mewajibkan semua pemain Chelsea, baik skuat utama maupun cadangan,
untuk sama-sama bergerak di ambisi juara.
No comments:
Post a Comment