Home

Wednesday, January 28, 2015

GAYA AFILIATIF DAN GAYA COACHING

A. GAYA AFILIATIF
Kepemimpinan dengan gaya afiliatif adalah seorang pemimpin yang memberikan jalan bagi anggotanya untuk bertindak. Seorang pemimpin mengedepankan kebahagiaan dari anggotnya. Setiap anggotanya memiliki kesempatan yang sama dalam memberikan ide-ide untuk kemajuan dari organisasi. Pemimpin akan sangat disenangi oleh semua bawahan atau anggotanya karena dalam organisasi semua memiliki sifat terbuka.

Gaya affiliative ini sangat berguna di saat anggota tim telah banyak dikecewakan oleh situasi dan mengalami banyak hal yang tidak menyenangkan di dalam organisasi. Pemimpin cenderung turun dan mendengarkan aspirasi dari anggota serta menggunakan empati dalam berkomunikasi dengan anggotanya. Gaya affiliative cenderung menyenangkan bagi anak buah, namun dapat memiliki efek bumerang, yaitu sulit menekan anak buah untuk memunculkan produktivitas yang tinggi
Kelemahan dari teori ini adalah anggotanya akan merasa ketergantungan kepada pemimpinnya, karena pemimpin selalu membantu dan mengedepankan anggota atau bawahannya, pemimpin ibarat sebatang lilin yang rela terbakar untuk menerangi sekelilinganya. Selain itu apabila seseorang yang belum mengenal pemimpin tersebut akan menganggap remeh pemimpinnya, karena seorang pemimpin selalu terbuka dengan masalah yang dihadapi dan meminta pendapat dari bawahannya sehingga orang akan menanggap bahwa pemimpinnya tidak memilii kemampuan yangn memadai.
Selain itu gaya afiliatif memiliki kelebihan yaitu terjadi harmonisasi antara pemimpin dan bawahannya karena adanya keterbukaan. Sehingga dalam mencapai tujuan organisasinya dapat saling bekerja sama dengan baik. Kelebihan yang paling utama adalah para anggotanya merasa senang karena pemimpin memprioritaskan semua kegiatan dan tujuannya pada anggotanya.


GAYA COACHING
Sesuai dengan namanya, pemimpin dengan gaya seperti ini lebih banyak fokus pada pengembangan skill dari anggotanya. Ia mencocokkan peluang untuk mengembangkan anak buahnya dengan kewajiban yang harus diberikan oleh organisasinya. Misalnya, pada saat sebuah organisasi membutuhkan inovasi, ia akan memberikan kesempatan kepada beberapa anggota timnya untuk bereksperimen dan menjadi “pelatih” yang selalu memotivasi mereka dalam mendorong keberhasilan inovasi yang akan berguna bagi organisasi. Gaya seperti ini sangat baik dalam mengembangkan kemampuan anggota, namun tidak semua organisasi memiliki kemewahan dari segi waktu untuk memberikan waktu bagi anggotanya untuk “trial-error” atau coba-coba.
Gaya coaching tujuannya mengembangkan bawahannya untuk masa depan dan berusaha membantu dan membimbing bawahan untuk perbaikan serta untuk tujuan jangka panjang. Masalah dari gaya ini adalah menyita waktu. Jenis kepemimpinan dengan gaya coaching menuntut kesempurnaan dari anggotanya. Akan tetapi jenis ini menetukan ketentuan yang berbeda-beda untuk setiap orang. Pemimpin menuntut anggotanya untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan bakat yang dimiliki masing-masing anggota. Karena pemimpin berpendapat bahwa dengan berkembangnya anggota maka akan berkembang pula organisasi yang dipimpinnya. 
Kelemalan dari kepemimpinan gaya ini adalah seorang pemimpin memerlukan waktu yang lama untuk mengembangkan anggotannya satu-persatu karena setiap individu berbeda-beda sehingga perlu diadakan pembicaraan secara langsung dengan anggota satu persatu. Selain itu anggota yang malas akan merasa tertekan karena selalu dituntut untuk melakukan hal-hal tertentu.
Selain kelemahan tentunya jenis kepemimpinan gaya ini juga memiliki kelebihan yaitu pemimpin akan mengenali semua anggota yang ada dalam organisasinya. Hal ini juga dapat untuk menggali kemampuan terpendam dari anggotanya dan juga memperbaiki kelemahan-kelemahan dari anggotanya.

C.      CONTOH PEMIMPIN DENGAN GAYA AFILIATIF DAN GAYA COACHING
a.      Gaya Afiliatif
1.      Abraham Lincoln 
Lahir di Hardin County, Kentucky, 12 Februari 1809-meninggal di Washington, D.C., 15 April 1865 pada umur 56 tahun) adalah Presiden Amerika Serikat yang ke-16, menjabat sejak 4 Maret 1861 hingga terjadi pembunuhannya. Dia memimpin bangsanya keluar dari Perang Saudara Amerika, mempertahankan persatuan bangsa, dan menghapuskan perbudakan. Namun, saat perang telah mendekati akhir, dia menjadi presiden AS pertama yang dibunuh. Sebelum pelantikannya pada tahun 1860 sebagai presiden pertama dari Partai Republik, Lincoln berprofesi sebagai pengacara, anggota legislatif Illinois, anggota DPR Amerika Serikat, dan dua kali gagal dalam pemilihan anggota senat.
Abraham Lincoln bekerja gaya kepemimpinan yang berbeda tergantung pada kebutuhan situasi. Seperti banyak pemimpin politik, dia paling sering digunakan gaya afiliatif. Lincoln mengasah keterampilan ini selama bertahun-tahun sebagai pengacara berlatih, terutama selama bulan-bulan ketika ia naik sirkuit di Illinois pedesaan dengan hakim dan pengacara lainnya. Di malam hari mereka semua akan berkumpul untuk makan malam dan bercerita. Lincoln mengakui cerita yang merupakan salah satu cara yang paling efektif pengacara membujuk dan berkomunikasi dan salah satu cara yang paling efektif politisi itu dari afiliasi:  "Lincoln adalah selalu menjadi pusat perhatian. Tidak ada yang bisa menyamai aliran tidak pernah berakhir nya cerita atau kemampuannya untuk mereproduksi mereka dengan tawa menular tersebut. Sebagai kisahnya berliku menjadi lebih terkenal, kerumunan warga desa ditunggu kedatangannya di setiap berhenti untuk kesempatan untuk mendengar pendongeng utama. Di mana-mana ia pergi, ia memenangkan pengikut setia, persahabatan yang kemudian berani usahanya untuk kantor. Kehidupan politik di tahun-tahun ini, sejarawan Robert Wiebe telah mengamati, "rusak ke dalam kelompok laki-laki yang terikat bersama oleh saling percaya." Dan tidak ada lingkaran politik lebih setia terikat dari band sebangsa bekerja untuk Lincoln di Chicago.
Gaya afiliatif Lincoln icontohkan oleh kabinetnya, Tim Rivals Lincoln memenangkan nominasi Partai Republik untuk presiden di Chicago pada tahun 1860, bukan dengan menjadi pilihan pertama dari mayoritas, tetapi dengan menjadi pilihan kedua mayoritas, karena tidak ada calon yang bisa marshal mayoritas pada pemungutan suara pertama. Pemimpin pada pemungutan suara pertama adalah William H. Seward, republik Senator dari New York, tapi ia tidak bisa perintah mayoritas. Lincoln adalah kedua mengejutkan. Kandidat lainnya termasuk Salmon P. Chase, gubernur republik dari Ohio, dan Edward Bates, seorang republik negara perbatasan terkemuka dari Missouri.
Pada pemungutan suara kedua dukungan Seward tergelincir dan Lincoln diperoleh. Lincoln menang mudah pada pemungutan suara ketiga. Dia pergi pada memenangkan pemilihan presiden sebagai demokrat yang buruk dibagi pada isu-isu perbudakan dan hak negara. Setelah memenangkan kursi kepresidenan sebagai pengacara sedikit diketahui dari Illinois dan berhadapan dengan pemisahan diri dekat, Lincoln berangkat untuk mengumpulkan kabinet terkuat yang dia bisa untuk cuaca badai politik menjelang. William H. Seward Untuk saingan terkuat, William Seward, ia ditawari posisi paling bergengsi di kabinetnya, bahwa dari Sekretaris Negara. Namun, pada bulan-bulan pertama kepresidenan Lincoln, Seward mencoba, di kali, untuk gerhana Lincoln, seolah-olah Lincoln hanyalah boneka. Sebagai contoh, selama krisis Fort Sumter dari April 1861, segera setelah asumsi Lincoln kantor, Seward berusaha untuk mengarahkan pasokan dari Ft. Sumter, yang mereka telah diperintahkan oleh Lincoln, ke Ft. Pickens. Hal ini menyebabkan pertemuan tengah malam yang tidak biasa antara Presiden, Seward, dan Gideon Welles, Sekretaris Angkatan Laut, untuk menyelesaikan masalah ini. Tidak ingin menyinggung Seward, Lincoln menyalahkan dirinya sendiri untuk campur-baur.
Kejadian ini menunjukkan gaya afiliatif di tempat kerja, di mana Presiden bersedia bertemu dengan Seward dan Welles pada tengah malam untuk menyelesaikan konflik, dan kemudian menyalahkan diri sendiri untuk itu.
Kesabaran Lincoln tampaknya telah akhirnya terbayar: Lincoln semakin dekat ke Seward daripada anggota lain dari pemerintahannya. Mereka menghabiskan berjam-jam santai bersama-sama (Seward hidup blok dari Gedung Putih) swapping anekdot politik dan cerita-cerita lain, dan Seward menjadi salah satu yang paling setia dan efektif pendukung presiden. Dia sering memuji Lincoln publik sebagai "yang terbaik dan paling bijaksana pria yang [telah] pernah dikenal." "Hal ini karena presiden mengatakan, bahwa kemurahan hati-Nya hampir super," tulisnya. "Presiden adalah yang terbaik dari kami".
2.      Chairul Tanjung
Chairul Tanjung (lahir di Jakarta, 16 Juni 1962; umur 52 tahun) adalah pengusaha asal Indonesia. Ia menjabat sebagai Menko Perekonomian menggantikan Hatta Rajasa sejak 19 Mei 2014 hingga 27 Oktober 2014. Namanya dikenal luas sebagai usahawan sukses bersama perusahaan yang dipimpinnya, Para Group. Chairul telah memulai berbisnis ketika ia kuliah dari Jurusan Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Sempat jatuh bangun, akhirnya ia sukses membangun bisnisnya. Perusahaan konglomerasi miliknya, Para Group menjadi sebuah perusahaan bisnis membawahi beberapa perusahaan lain seperti Trans TV dan Bank Mega.
Dalam menjalankan kepemimpinan, iamemberi panutan terhadap anak buah. Cara ini terbukti ampuh. "Jika anda mencontohkan kerja keras maka anak buah akan kerja keras. Ambisi membesarkan semua lini bisnis CT Corp semakin besar. Dalam memimpin  Bank Mega dirancang untuk menjadi bank terbesar dalam 10 tahun ke depan. Strateginya, Bank Indonesia akan banyak membuka cabang di Indonesia Timur dalam tiga tahun mendatang. Targetnya 200 kantor baru di Indonesia Timur, sehingga bisa menjadi bank terbesar di wilayah itu. Dan dalam gaya memimpinnya, Chairul Tanjung sengaja berkeliling Indonesia untuk bertemu dengan seluruh karyawannya. Dia menjelaskan bagaimana kondisi perekonomian saat ini agar pegawainya siap menghadapi krisis. Ada tiga pesan, pertama, jika ternyata krisis ini sangat panjang dan semua orang harus mati, maka pastikan menjadi orang yang terakhir mati. Kedua, jika krisis ini sangat panjang dan hanya tersisa satu orang, maka pastikan anda menjadi orang tersebut. Ketiga, jika tidak terjadi krisis maka pastikan anda menjadi orang yang paling bahagia karena anda sudah siap.


b.      Gaya Coaching
1.      Jokowi (Joko Widodo)

Ir. H. Joko Widodo  atau yang akrab disapa Jokowi (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 21 Juni 1961; umur 53 tahun) adalah Presiden Indonesia ke-7 yang menjabat sejak 20 Oktober 2014. Ia terpilih bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla dalam Pemilu Presiden 2014. Jokowi pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sejak 15 Oktober 2012 hingga 16 Oktober 2014 didampingi Basuki Tjahaja Purnama sebagai wakil gubernur dan Wali Kota Surakarta (Solo) sejak 28 Juli 2005 sampai 1 Oktober 2012 didampingi F.X. Hadi Rudyatmo sebagai wakil wali kota. Dua tahun sementara menjalani periode keduanya di Solo, Jokowi ditunjuk oleh partainya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk memasuki pemilihan Gubernur DKI Jakarta bersama dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Jokowi pada saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta mengumpulkan semua kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Ruang Pola, kompleks Balaikota Jakarta. Maksud dirinya mengumpulkan semua kepala SKPD bukan hanya untuk berkoordinasi mengenai semua program, tapi lebih runcing, Jokowi ingin memastikan semua bawahannya memiliki rencana kerja yang detil dan langsung menyentuh akar permasalahan. Jokowi  beri arahan untuk tahun 2013, masalah-masalah kecil secara detil mulai kita ubah. Inilah gaya coaching kepemimpinan jokowi, memberi pengarahan dan membina kepala SKPD atau bawahannya.
2.      Jose Morinho 
José Mário dos Santos Mourinho Félix, lebih dikenal dengan nama José Mourinho, (Portugal, 26 Januari 1963; umur 51 tahun) adalah seorang pelatih sepak bola asal Portugal dan termasuk salah satu pelatih terbaik dalam sejarah sepak bola dunia atas prestasi-prestasi yang sudah diraihnya selama ini. Ia kembali ke Chelsea pada 3 Juni 2013, seiring pengumuman situs resmi klub tersebut.
Jose Mourinho menuntut seluruh pemainnya di Chelsea membina kultur dan mental juara sehingga mereka mengharamkan posisi selain yang teratas. The Blues saat ini bercokol di peringkat kedua klasemen Premier League, menguntit Arsenal dengan selisih 4 poin. Dan Mourinho mewajibkan semua pemain Chelsea, baik skuat utama maupun cadangan, untuk sama-sama bergerak di ambisi juara.




No comments:

Post a Comment